Konsep Konstruksi Kritik Media Sosial
Konsep Konstruksi Kritik Media Sosial
Pemikiran Max Weber tentang tindakan sosial memberikan pengaruh yang
besar terhadap teori konstruksi. Ide yang paling mendasar adalah pandangan
bahwa manusia adalah aktor yang kreatif dari realitas sosialnya dimana tindakan
manusia tidak sepenuhnya ditentukan oleh norma-norma, kebiasaan-kebiasaan,
nilai-nilai, dan sebagainya, yang semua itu tercakup dalam fakta sosial yaitu
tindakan yang tergambarkan struktur dan pranata sosial.
Sementara itu, teori konstruktivisme
adalah pandangan yang melihat bahwa kebenaran suatu realitas sosial dilihat
sebagai hasil konstruksi sosial dan kebenaran suatu realitas sosial bersifat
relatif (nisbi). Dalam bentuk aslinya, konstruktivisme mengacu pada studi
tentang bagaimana struktur mental manusia dikonstruksi dari waktu ke waktu dan
bagaimana jaringan neural yang sebelumnya dilatih untuk menjalankan tindakan
simbolik terntenu menjadi kondisi bagi tindakan selanjutnya[1]. Menurut teori ini, indvidu menafsirkan dan bertindak sesuai dengan
kategori konseptual yang ada dalam fikiran mereka. Realitas tidak tidak hadir
sendirinya dalam bentuk mentah tapi disaring oleh melalui cara individu itu
sendiri dalam melihat sesuatu[2]. Sedangkan teori
konstruksionisme (constructionisme theory) atau social construction mulai
dikenal dengan Berger dan Luckmann mempublikan karyanya The Social Construction
of Reality. Dalam pembahasannya tentang media, terdapat 5 proposisi utama dari
teori konstruksionisme sosial, yakni;
1.
Masyarakat
merupakan sebuah konstruk, bukannya realitas yang pasti (fixed reality)
2.
Media
memberikan bahan-bahan bagi proses konstruksi sosial
3.
Makna
ditawatkan oleh media namun dapat dinegosiasikan atau ditolak
4.
Media
mereproduksi makna-makna tertentu
5.
Media
tidak bisa memberikan realitas sosial yang objektif karena semua fakta adalah
interpretasi.
Teori konstruksionisme sosial pada
prinsipnya berusaha memberikan pemahaman tentang makna, norma, peran dan aturan
bekerja dalam komunikasi. Teori ini lebih menaruh perhatian bagaimana orang
menciptakan realitas secara kolektif. Sebab itu, dalam teori konstruksionisme
sosial, teori interaksionisme simbolik (symbolic interactionisme) memberikan
pengaruh yang besar dalam memberikan arti tentang makna simbol yang ada.
Konstruksi Sosial Media Massa
Awalnya teori konstruksi sosial
media massa (social construction of mass media) berasal dari teori konstruksi
sosial atas realitas diperkenalkan Peter L. Berger dan Thomas Luckman yang
mengatakan bahwa pada dasarnya realitas sosial dibentuk dan dikonstruksi
manusia. Beberapa hal yang menjadi asumsi dasar yaitu;
1.
Realitas
merupakan hasil ciptaan manusia kreatif melalui kekuataan konstruksi sosial
terhadap dunai sosial di sekelilingnya;
2.
Hubungan
antara pemikiran manusia dan konteks sosial tempat pemikiran itu timbul,
bersifat berkembang dan dilembagakan;
3. Kehidupan masyarakat itu dikonstruksi secara terus menerus; 4. Membedakan antara realitas dengan pengetahuan. Realitas diartikan sebagai kualitas yang terdapat di dalam kenyataan yang diakui sebagai memiliki keberadaan (being) yang tidak bergantung kepada kehendak kita sendiri. Sementara pengetahuan didefinisikan sebagai kepastian bahwa realitas-realitas itu nyata (real) dan memiliki karakteristik yang spesifik.
Proses konstruksinya dilihat dari perspektif teori Berger & Luckmann berlangsung melalui interaksi sosial yang dialektis dari tiga bentuk realitas yang menjadi entry concept, yakni subjective reality, symbolic reality dan objective reality. Selain itu juga berlangsung dalam suatu proses dengan tiga momen simultan, eksternalisasi, objektivikasi dan internalisasi. Objective reality yaitu merupakan suatu kompleksitas definisi realitas (termasuk ideologi dan keyakinan ) serta rutinitas tindakan dan tingkah laku yang telah mapan terpola, yang kesemuanya dihayati oleh individu secara umum sebagai fakta. Symblolic reality adalah ekspresi simbolik dari apa yang dihayati sebagai objective reality misalnya teks produk industri media, seperti berita di media cetak atau elektronika, begitu pun yang ada di film-film. Dan Subjective reality adalah konstruksi definisi realitas yang dimiliki individu dan dikonstruksi melalui proses internalisasi. Realitas subjektif yang dimiliki masing-masing individu merupakan basis untuk melibatkan diri dalam proses eksternalisasi, atau proses interaksi sosial dengan individu lain dalam sebuah struktur sosial. Melalui proses eksternalisasi itulah individu secara kolektif berpotensi melakukan objectivikasi, memunculkan sebuah konstruksi objektive reality yang baru.

PROSES
KONSTRUKSI SOSIAL MEDIA MASSA
Untuk memahami
bagaimana proses kelahiran konstruksi sosial media massa, terdapat beberapa
tahapan yang dilalui yakni;
1) Tahap
menyiapkan materi konstruksi yang mencakup kepada beberapa hal yaitu; Pertama
keberpihakan media massa kepada kapitalisme seperti yang terjadi saat ini
hampir semua media mainstream dimiliki kelompok kapitalis tertentu untuk
menjadikan media massa sebagai mesin penciptaan uang dan penggandaan modal.
Tentunya hal itu memunculkan ideologi yang lebih mengutamakan bagaimana agar
media massa mampu mendatangkan keuntungan sebesar-besarnya pagi pemilik dan
pemodal. Kedua keberpihakan semu kepada masyarakat. Bentuk dari keberpihakan
ini adalah empati, simpati, dan berbagai partisipasi kepada masyarakat, namun
ujung[1]ujungnya
adalah untuk menjual berita dan menaikkan rating untuk kepentingan kapitalis.
Apalagi saat ini jelas bahwa hampir seluruh media mainstream dimiliki kelompok
usaha tertentu dan berafiliasi kepada partai politik tertentu. Ketiga adalah
keberpihakan kepada kepentingan umum. Bentuk keberpihakan kepada kepentingan
umum dalam arti sesungguhnya sebenarnya adalah visi setiap media massa namun
fakta di lapangan hanyalah sebatas jargon dan slogan saja.
2) Tahap
sebaran konstruksi yakni dilakukan masing-masing media massa dengan strategi
yang berbeda namun prinsip utamanya adalah real-time. Media elektronik memiliki
konsep real-time yang berbeda dengan media cetak. Karena sifatnya yang langsung
(live), maka yang dimaksud dengan real-time oleh media elektronik adalah
Eksternalisasi Objektivasi Internalisasi M e d i a M a s s a Objektif Subjektif
Iner Subjektif Realitas Terkonstruksi 1. Lebih Cepat 2. Lebih Luas 3. Sebaran
Merata 4. Membentuk Opini Massa 5. Massa cenderung terkonstruksi 6. Opini Massa
Cendrung Apriori 7. Opini Massa Cendrung Sinis Souce Message Chanel Receiver
Effect seketika disiarkan, seketika itu juga pemberitaan sampai ke pemirsa atau
pendengar. Namun bagi varian-varian media cetak, yang dimaksud dengan real-time
terdiri dari beberapa konsep hari, minggu, atau bulan, seperti harian,
mingguan, dan bulanan. Walaupun media cetak memiliki konsep real-time yang
tertunda, namun konsep aktualitas menjadi pertimbangan utama sehingga pembaca
merasa tepat waktu memperoleh berita tersebut.
3) Tahap
pembentukan konstruksi yang terdiri dari berbagai 2 tahap, yakni Pertama
pembentukan konstruksi realitas pembenaran sebagai suatu bentuk konstruksi
media massa yang terbentuk di masyarakat yang cenderung membenarkan apa saja
yang ada (tersaji) di media massa sebagai suatu realitas kebenaran. Selain itu,
kesediaan dikonstruksi oleh media massa, yaitu sikap generik dari tahap
pertama. Bahwa pilihan orang untuk menjadi pembaca dan pemirsa media massa
adalah karena pilihannya untuk bersedia pikiran-pikirannya dikonstruksi oleh
media massa. Selain itu menjadikan konsumsi media massa sebagai pilihan konsumtif,
di mana seseorang secara habit tergantung pada media massa. Media massa adalah
bagian kebiasaan hidup yang tak bisa dilepaskan. Tahap kedua yakni pembentukan
konstruksi citra yakni bagaimana konstruksi citra pada sebuah pemberitaan
ataupun bagaimana konstruksi citra pada sebuah iklan. Konstruksi citra pada
sebuah pemberitaan biasanya disiapkan oleh orang-orang yang bertugas di dalam
redaksi media massa, mulai dari wartawan, editor, dan pimpinan redaksi.
Sedangkan konstruksi citra pada sebuah iklan biasanya disiapkan oleh para
pembuat iklan, misalnya copywriter. Pembentukan konstruksi citra ialah bangunan
yang diinginkan oleh tahap-tahap konstruksi. Di mana bangunan konstruksi citra
yang dibangun oleh media massa ini terbentuk dalam dua model, yakni model good
news dan model bad news. Model good news adalah sebuah konstruksi yang
cenderung mengkonstruksi suatu pemberitaan sebagai pemberitaan yang baik.
Sedangkan model bad news adalah sebuah konstruksi yang cenderung mengkonstruksi
kejelekan atau memberi citra buruk pada objek pemberitaan.
4) Tahap
konfirmasi yakni tahapan dimana media massa maupun pembaca dan pemirsa memberi
argumentasi dan akunbilitas terhadap pilihannya untuk terlibat dalam tahap
pembentukan konstruksi. Bagi media, tahapan ini perlu sebagai bagian untuk
memberi argumentasi terhadap alasan-alasannya konstruksi sosial. Sedangkan bagi
pemirsa dan pembaca, tahapan ini juga sebagai bagian untuk menjelaskan mengapa
ia terlibat dan bersedia hadir dalam proses konstruksi sosial.
Berdasarkan
paparan di atas dapat dikemukakan beberapa kesimpulan
1. Konstruksi
Sosial Media Massa hakikatnya membongkar semua makna yang terkandung yang
diproduksi media dalam bentuk teks, audio maupun visual
2. Besarnya
pengaruh media kepada masyarakat atau audience dapat berimplikasi positif dan
negatif terhadap sikap dan opini yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.
3. Monopoli
usaha media yang dikuasai beberapa kelompok tertentu di Republik Indonesia
cendrung menciptakan hegemoni di tengah-tengah masyarakat.
[1] Stephen W Littlejohn and Karen A Foss, ‘Ensiklopedia
Teori Komunikasi’, Jakarta: Kencana, 2016.
[2] K Karman, ‘Konstruksi Realitas Sosial
Sebagai Gerakan Pemikiran (Sebuah Telaah Teoretis Terhadap Konstruksi Realitas
Peter L. Berger)’, Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Komunikasi Dan
Informatika, 5.3 (2015), 11–23.
Komentar
Posting Komentar