Pendekatan Kritik Sosial
PENDEKATAN KRITIK SOSIAL
Diajukan untuk memenuhi tugas ulangan tengah
semester media dan kritik sosial

Dosen Pengampu:
Abu Amar Bustomi M.Si.
Disusun Oleh :
Gita Milenovia
(04040520114)
PROGRAM STUDI ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA
2022
BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kritik sosial adalah sindiran maupun tanggapan
yang ditujukan pada sesuatu yang terjadi dalam masyarakat. Kritik sosial muncul
ketika terjadi ketidakpuasan terhadap realitas kehidupan yang dinilai tidak
selaras. Adanya pelanggaran-pelanggaran dalam kehidupan masyarakat akan
memunculkan kritik dalam kalangan masyarakat itu sendiri. Kritik sosial yang
membangun tidak hanya berisi kecaman, celaan, atau tanggapan terhadap situasi
tertentu, tetapi juga berisi inovasi sosial sehingga tercapai sebuah
harmonisasi sosial.[1]
Kritik dapat disampaikan secara langsung maupun tidak langsung.
Kritik sosial memiliki beberapa bentuk secara
langsung atau tidak langsung. Beberapa bentuk kritikan langsung yaitu dapat
berupa aksi sosial, aksi unjuk rasa, dan demonstrasi. Selain itu bentuk
kritikan secara tidak langsung antara lain kritik melalui lagu, kritik melalui
puisi, kritik melalui film, aksi teatrikal dan lain sebagainya. Berbagai bentuk
kritik sosial memiliki pengaruh dan dampak sosial yang penting didalam
kehidupan masyarakat. Kritik sosial merupakan sebuah bentuk dari komunikasi
yang dapat dipahami baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, bertujuan untuk mengontrol
jalannya sistem sosial yang berkenaan dengan masalah interpersonal.
Menurut bentuk-bentuk
kritik sosial yang sudah dijelaskan diatas, kritik sosial dapat dibedakan
menjadi dua kelompok sosial antara lain kritik sosial yang dilakukan secara
langsung maupun secara tidak langsung. Kritik sosial secara langsung setiap
kegiatan penilaian, kajian atau analisis terhadap suatu keadaan masyarakat
tertentu dilakukan secara langsung. Sedangkan kritik sosial secara tidak
langsung dapat berupa suatu tindakan simbolis yang menyajikan penilaian maupun
kecaman terhadap keadaan sosial masyarakat tertentu.
B. Rumusan
Maasalah
1. Apa yang
dimaksud Kritik Sosial
2. Apa saja
pedekatan Kritik Sosial
C. Tujuan
1. Untuk
mengetahui pengertian dari kritik sosial
2. Untuk
mengetahui jenis-jenis pendekatan kritik sosial
BAB II
ISI
A. Kritik Sosial
Kritik sosial dapat disampaikan melalui
berbagai wahana, mulai dari cara yang paling tradisonal, seperti pepe (berjemur
diri), ungkapan-ungkapan sindiran melalui komunikasi antar personal dan
komunikasi sosial, melalui berbagai pertunjukan sosial dan kesenian dalam
komunikasi publik, seni sastra dan melalui media massa. Kritik sosial adalah
salah satu bentuk komunikasi dalam masyarakat yang bertujuan atau berfungsi
sebagai kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial atau proses. Dalam
konteks inilah kritik sosial merupakan salah satu variabel panting dalam
memelihara sistem sosial. Berbagai tindakan sosial ataupun individual yang
menyimpang dari orde sosial maupun orde nilai-moral dalam masyarakat dapat
dicegah dengan memfungsikan kritik sosial. Dengan kata lain, kritik sosial
dalam hal ini berfungsi sebagai wahana untuk konservasi dan reproduksi sebuah
sistem sosial atau masyarakat.
Kritik sosial juga dapat berarti sebuah
inovasi sosial. Dalam arti bahwa kritik sosial menjadi sarana komunikasi
gagasan-gagasan baru sembari menilai gagasan-gagasan lama untuk suatu perubahan
sosial. Kritik sosial dalam kerangka yang demikian berfungsi untuk membongkar
berbagai sikap konservatif, status quo dan vested interest dalam masyarakat
untuk perubahan sosial.[2]
Kritik sosial dalam pengertian yang terakhir ini sering muncul ketika
masyarakat atau sejumlah orang atau kelompok sosial dalam masyarakat
menginginkan suasana baru, suasana yang lebih baik dan lebih maju, atau secara
politis,suasana yang lebih demokratis dan terbuka.
Jadi, kritik sosial dapat dapat diartikan
sebagai tanggapan atau respon seseorang terhadap segala sesuatu yang
berhubungan dengan masyatakat. Kritik sosial banyak dijumpai dalam karya-karya
sastra, dan kritik sosial dalam karya sastra akan muncul apabila pengarang atau
sastrawan memiliki taraf kepekaan yang tinggi terhadap berbagai
persoalan-persoalan masyarakatnya. Tindakan kritik atau protes dalam dunia
sastra menurut Saini K.M. dalam bukunya Protes Sosial dalam Sastra merupakan
salah satu bagian dari keterarahan kesadaran manusia terhadap realitas sosial
yang ada di mana sastrawan itu tinggal.[3]
B. Jenis-jenis
Kritik Sosial
1. Pendekatan
Komunikasi Hyperpersonal
Fenomena ini sejalan dengan kajian komunikasi dalam pendekatan komunikasi
hyperpersonal, yang menjadi salah satu bagian dari komunikasi bermediasi
komputerisasi/digital. Menurut Walther (1996) komunikasi bermediasi komputer
dapat menjadi hyperpersonal dikarenakan praktik komunikasi yang dianggap
melebihi interaksi tatap muka, dimana model komunikasi ini mampu untuk
memberikan pengirim pesan sejumlah keuntungan komunikatif yang melebihi interaksi
tatap muka secara tradisional. Seseorang lebih leluasa mempertimbangkan
berbagai aspek sebelum melakukan komunikasi, termasuk bagaimana membentuk
identitas dirinya. Disinilah yang akhirnya memicu adanya konsep diri, dimana
seseorang dapat memilih seperti apa gambaran dirinya untuk dibagikan, termasuk
dalam kegiatan komunikasinya menggunakan media sosial. Dalam Walther et al.,
(2015) hal inilah yang menarik untuk diteliti, terkait karakteristik pengguna
media sosial dalam memanfaatkan media sosial sebagai sarana komunikasi dan
pemenuhan informasi, khususnya dalam mencari informasi tentang kebijakan
pemerintah dan memberikan tanggapan atas kebijakan tersebut dalam berbagai
platform media sosial.[4]
Komunikasi hyperpersonal memiliki efek komunikasi online yang sedikit
berbeda dibandingkan komunikasi tatap muka dimana dalam kondisi pengguna ketika
berbincang tanpa identitas atau anonim akan menciptakan peluang bagi para
pengguna untuk secara leluasa membangun keintiman dan kesan baru dibandingan
ketika berkomunikasi secara tatap muka karena nyamannya kondisi tanpa identitas
atau anonim sehingga munculnya rasa bebas dalam mengekspresikan segala yang
ingin dikomunikasikan. Model komunikasi hyperpersonal memiliki empat proses
komunikasi yaitu penerima atau receiver, pengirim atau sender, saluran atau
channel, serta umpan balik atau feedback.
2. Pendekatan
Semiotika
Semiotika dalam kajian semiotika dibagi menjadi dua yaitu semiotika
signifikasi dan semiotika komunikasi yang lebih menekankan teori mengenai
produksi tanda dengan enam faktor yang diasumsikan dalam komunikasi yakni
penerima kode, pengirim kode, saluran komunikasi, pesan, dan acuan yang
dibahas. Semiotika signifikasi berbalik dari semiotika komunikasi dimana ia
tidak membahas mengenai tujuan komunikasi, dan justru malah mengutamakan
pemahaman dari suatu tanda yang bertujuan untuk memfokuskan perhatian proses
kognisi penerima.
Semiotika membagi bagi isi dari teks menjadi beberapa bagian dan
menghubungkannya kembali dengan wancana yang jauh lebih lebar. Sistem pesan
yang beroperasi dihubungkan dengan salah satu teks yang nantinya isi akan
memunculkan konteks intelektual dengan cara mengulas unsur teks yang
berinteraksi dan bekerja sama dengan pengetahuan kultural yang bertujuan untuk
menciptakan makna.
3. Pendekatan
Hermeneutik
Pendekatan hermeneutika memberi
kesempatan pembaca dan peneliti untuk menginterpretasi dan memahami dengan
tidak terpaku pada mekanis, melainkan dengan membuka pikiran terhadap sesuatu
‘yang lain’ dalam teks. Hermeneutika merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk
menganalisis suatu teks. Saat ini hermeneutika banyak digunakan dalam kajian
teks hampir di segala bidang keilmuan, antara lain: filsafat, seni, sastra,
sejarah, hukum, dan yang lainnya. Hermeneutika merupakan salah satu teori filsafat mengenai interpretasi
makna. Sebagai sebuah pendekatan, saat ini hermeneutika banyak dikaji oleh para
peneliti akademis seperti: kritikus sastra, sosiolog, sejarawan, antropolog,
filosof, maupun teolog, khususnya untuk mengkaji, memahami, dan menafsirkan
teks kitab suci, seperti Injil atau Alquran.
Kata hermeneutika secara etimologis
berasal dari bahasa Yunani yaitu kata kerja hermeneuein yang berarti
menafsirkan atau menginterpretasi, atau kata benda hermenia yang berarti
penafsiran atau interpretasi. Dari kata kerja hermeneuein dapat ditarik tiga
bentuk makna dasar masih dalam koridor makna aslinya, yaitu mengungkapkan,
menjelaskan, dan menerjemahkan. Ketiga makna ini dapat diungkapkan dengan
bentuk kata kerja dalam bahasa Inggris to interpret, namun masing-masing dari
ketiga makna tersebut membentuk sebuah makna yang independen dan signifikan
bagi interpretasi. Sebagai sebuah metode penafsiran, hermeneutika terdiri atas tiga
bentuk atau model. Pertama, hermeneutika objektif yang dikembangkan tokoh-tokoh
klasik, khususnya Friedrick Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, dan Emilio Betti.
Menurut model ini, penafsiran berarti memahami teks sebagaimana yang di pahami
pengarangnya, sebab apa yang disebut teks adalah ungkapan jiwa pengarangnya,
sehingga apa yang disebut makna atau tafsiran atasnya tidak didasarkan atas
kesimpulan pembaca melainkan diturunkan dan bersifat instruktif.[5]
4. Pendekatan
Sosiologi
Pendekatan sosiologi karya sastra menganalisis
manusia dalam masyarakat yang terdapat dalam karya sastra, melalui sebuah
proses pemahaman yang dimulai dari masyarakat terhadap suatu individu tertentu.
Pendekatan sosiologi karya sastra menganggap bahwa karya sastra sebagai karya
yang ditujukan untuk masyarakat dan milik masyarakat. Penerapan pendekatan
sosiologi karya sastra pada bertujuan untuk menelaah segala sesuatu yang
berhubungan atau terkait dengan masalah kritik sosial dalam masyarakat saat ini
yang kemudian difokuskan pada bentuk kritik sosial melalui terhadap masalah
kejahatan, disorganisasi keluarga dan masalah generasi muda dalam masyarakat
modern. Pendekatan ini menitikberatkan pada fenomena yang tengah dirasakan oleh
masyarakat sosial saat ini yang bersifat reflektif terhadap era yang terjadi
saat ini. Sastra dianggap sebagai cerminan kehidupan yang menjadi pemicu
lahirnya sebuah karya sastra dan pada akhirnya karya sastra akan berhasil atau
sukses dapat dilihat dari bagaimana pengarang mampu merefleksikan karya sastra
sesuai dengan zamannya. Penerapan pendekatan sosiologi dalam karya sastra
berguna untuk menelaah hal-hal yang terkait dengan realitas sosial yang terjadi
di dalam kehidupan masyarakat khususnya masyarakat modern yang ada dalam karya
sastra.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Kritik sosial adalah sindiran maupun tanggapan
yang ditujukan pada sesuatu yang terjadi dalam masyarakat. Kritik sosial muncul
ketika terjadi ketidakpuasan terhadap realitas kehidupan yang dinilai tidak
selaras. Adanya pelanggaran-pelanggaran dalam kehidupan masyarakat akan
memunculkan kritik dalam kalangan masyarakat itu sendiri. Kritik sosial
merupakan sebuah bentuk dari komunikasi yang dapat dipahami baik dalam bentuk
lisan maupun tulisan, bertujuan untuk mengontrol jalannya sistem sosial yang
berkenaan dengan masalah interpersonal.
Menurut bentuk-bentuk kritik sosial yang sudah dijelaskan diatas, kritik
sosial dapat dibedakan menjadi dua kelompok sosial antara lain kritik sosial
yang dilakukan secara langsung maupun secara tidak langsung. Kritik sosial juga
dapat berarti sebuah inovasi sosial. Dalam arti bahwa kritik sosial menjadi
sarana komunikasi gagasan-gagasan baru sembari menilai gagasan-gagasan lama
untuk suatu perubahan sosial. Kritik sosial dalam kerangka yang demikian
berfungsi untuk membongkar berbagai sikap konservatif, status quo dan vested
interest dalam masyarakat untuk perubahan sosial.
DAFTAR PUSTAKA
Abduh, Ichsan Muhammad, and Hafied Cangara, ‘Kritik
Sosial Kebijakan Pemerintah Dalam Platform Media Sosial Dengan Pendekatan
Komunikasi Hyperpersonal’, Jurnal Nomosleca, 8.1 (2022), 91–100
Akbar, Ahmad Zaini,
‘Kritik Sosial, Pers Dan Politik Indonesia’, Unisia, 1997, 44–51
Dewi, Trie Utari, ‘KRITIK
NOVEL ASSALAMUALAIKUM, BEIJING! KARYA ASMA NADIA PENDEKATAN STRUKTURAL’, Imajeri:
Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1.2 (2019), 91–100
Marzuki, Ismail, Nouval
Rumaf, and Siti Fatihaturrahmah Al Jumroh, ‘BENTUK KRITIK SOSIAL PADA NOVEL
SURAT PANJANG TENTANG JARAK KITA YANG JUTAAN TAHUN CAHAYA KARYA DEWI KHARISMA
MICHELLIA’, FRASA: Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya,
1.1 (2020), 19–32
Purkon, Arip, ‘Pendekatan
Hermeneutika Dalam Kajian Hukum Islam’, AHKAM: Jurnal Ilmu Syariah, 13
(2001)
[1] Ismail Marzuki, Nouval Rumaf, and Siti
Fatihaturrahmah Al Jumroh, ‘BENTUK KRITIK SOSIAL PADA NOVEL SURAT PANJANG
TENTANG JARAK KITA YANG JUTAAN TAHUN CAHAYA KARYA DEWI KHARISMA MICHELLIA’, FRASA:
Jurnal Keilmuan, Bahasa, Sastra, Dan Pengajarannya, 1.1 (2020), 19–32.
[2] Ahmad Zaini Akbar, ‘Kritik Sosial, Pers
Dan Politik Indonesia’, Unisia, 1997, 44–51.
[3] Trie Utari Dewi, ‘KRITIK NOVEL
ASSALAMUALAIKUM, BEIJING! KARYA ASMA NADIA PENDEKATAN STRUKTURAL’, Imajeri:
Jurnal Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, 1.2 (2019), 91–100.
[4] Ichsan Muhammad Abduh and Hafied Cangara,
‘Kritik Sosial Kebijakan Pemerintah Dalam Platform Media Sosial Dengan Pendekatan
Komunikasi Hyperpersonal’, Jurnal Nomosleca, 8.1 (2022), 91–100.
[5] Arip Purkon, ‘Pendekatan Hermeneutika
Dalam Kajian Hukum Islam’, AHKAM: Jurnal Ilmu Syariah, 13 (2001).
Komentar
Posting Komentar