RELASI DAN KRITIK SOSIAL

 





KRITIK SOSIAL

kritik sosial memiliki peran penting dalam masyarakat dan menjadi alat untuk menstabilkan keadaan masyarakat atau kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial atau proses bermasyarakat. Dapat dikaitkan bahwa kritik sosial dapat digunakan untuk memberikan penilaian sosial lewat karya sastra. Kritik sosial juga merupakan tanggapan atas dasar suka atau tidak suka mengenai suatu permasalahan kemasyarakatan yang berhubungan dengan hal-hal sosial, seperti masalah kemiskinan, politik, budaya, dan segala hal yang berkutat pada lingkungan kehidupan manusia.[1]

Kritik Sosial adalah sebuah inovasi yang berarti kritik sosial menjadi sebuah sarana komunikasi gagasan baru di samping menilai gagasan lama untuk suatu perubahan sosial. Kritik sosial sebagai salah satu bentuk komunikasi di dalam masyarakat yang berfungsi sebagai kontrol terhadap jalannya sebuah sistem sosial atau proses bermasyarakat. Menurut pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa kritik sosial merupakan bentuk perlawanan atau tidak sependapat seseorang ataupun kelompok tertentu terhadap kenyataan yang telah terjadi dalam sebuah kelompok masyarakat.

Kritik sosial memiliki beberapa bentuk secara langsung atau tidak langsung. Beberapa bentuk kritikan langsung yaitu dapat berupa aksi sosial, aksi unjuk rasa, dan demonstrasi. Selain itu bentuk kritikan secara tidak langsung antara lain kritik melalui lagu, kritik melalui puisi, kritik melalui film, aksi teatrikal dan lain sebagainya. Berbagai bentuk kritik sosial memiliki pengaruh dan dampak sosial yang penting didalam kehidupan masyarakat. Kritik sosial merupakan sebuah bentuk dari komunikasi yang dapat dipahami baik dalam bentuk lisan maupun tulisan, bertujuan untuk mengontrol jalannya sistem sosial yang berkenaan dengan masalah interpersonal.

 

Keterkaitan Relasi

Pada dasarnya masyarakat merupakan kelompok manusia terbesar yang mempunyai tradisi, kebiasaan, sikap dan perasaan persatuan yang sama. Hal tersebut menunjukan bahwa masyarakat terdiri beberapa kelompok yang terdiri dari mulai yang terkecil hingga yang terbesar sekalipun memiliki kebiasaan yang selanjutnya menjadi suatu tradisi sehingga terbentuklah suatu aturan tertentu. Didalam hubungan bermasyarakat timbul suatu reaksi sebagai akibat kontak hubungan tersebut sehingga dapat mengakibatkan prilaku individu semakin berkembang dan bertambah meluas yang dapat menyebabkan suatu perubahan didalam masyarakat. Perubahan yang mungkin terjadi didalam masyarakat berbentuk nilai-nilai sosial, norma-norma sosial, pola-pola perilaku, organisasi, susunan lembaga-lembaga kemasyaraakatan, lapisan-lapisan dalam masyarakat, kekuasaan dalam wewenang, interaksi sosial dan lain sebagainya.[2]

Dalam situasi yang demikian ini, relasi antara manusia dengan manusia, antara manusia dengan dunianya, dan dengan ciptaannya bersifat searah, dalam arti, ia atau sesuatu telah dimiliki atau didominasi, dianggap sebagai tolok ukur, telah dimanipulasi menjadi bahan yang dikondisikan. Norma-norma sebagai aturan telah menciptkan bentuk manusia yang terbelenggu. Fromm menggambarkan bahwa setiap ideal yang menjadi arah dan tujuan pengembangan manusia, sebagai tidak dapat dibelenggu oleh bentuk-bentuk represi yang mengakibatkan jiwa manusia menjadi terbelenggu. Ideal-ideal yang muncul, termasuk juga dalam ideologi sebagai ekspresi dari kebutuhan manusia yang sama, harus tetap dihormati dan dinilai kebenarannya sampai pada tingkat ideal tersebut kondusif bagi perkembangan kekuatan manusia, dan juga sampai pada tahap ideal tersebut merupakan sebuah jawaban riil terhadap kebutuhan manusia akan keseimbangan dan keselarasan

Dikotomi eksistensial yang ditandai dengan pemenuhan kebutuhan, yang mencirikan menjadi seorang manusia, juga  mengalami kontradiksi-kontradiksi. Ideologi manusia bagi Fromm merupakan kondisi yang tidak seimbang dan selaras dalam pemenuhan kebutuhan manusia. Kebutuhan manusia berasal dari eksistensi manusia. Pada situasi manusia, dalam dirinya terdapat dikotomi eksistensial dan historikal.[3]

Fromm manunjuk lima macam kebutuhan manusia, yang di dalamnya terdapat konradiksi-kontradiksi, yaitu:

(1)  Kebutuhan keterhubungan dan narsisme,

(2)  Transendensi : kekreatifan dan kehancuran,

(3)  Keterikatan persaudaraan dan incest,

(4)  Rasa identitas : individualitas dan kecocokan kelompok,

(5)  Kebutuhan kerangka orientasi dan pengabdian: rasional dan irrasional.

 

 

 

 

 

 

 

 


 



[1] Supraja, Pengantar Metodologi Ilmu Sosial Kritis Jurgen Habermas.

[2] Alchamid, “Konsep Humanisasi Pada Masyarakat Era Teknologi: Studi Komparasi Pemikiran Erich Fromm Dan Kuntowijoyo.”

[3] Sutikna, “Ideologi Manusia Menurut Erich Fromm (Perpaduan Psikoanalisis Sigmund Freud Dan Kritik Sosial Karl Marx).”

Komentar

  1. jadi disini yang dimaksud dengan kritik sosial itu sebuah kritik keadaan masyarakat atau kritik yang dilakukan oleh masa (banyak orang)? karena diatas sepertinya rancu

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

DIMENSI DIMENSI ILMU KOMUNIKASI

Tokoh-Tokoh Ilmu Komunikasi

Pendekatan Kritik Sosial